Selasa, 12 Januari 2016

Mantra dalam Sastra


A.       PENGERTIAN MANTRA
Mantra diambil dari kata sansekerta yaitu "mantra" atau "manir" yang merujuk pada kata-kata dalam kitab suci umat Hindu, Veda. Dalam masyarakat Melayu, mantra atau juga dikenal sebagai jampi, serapah, atau seru adalah sejenis pengucapan yang terdengar seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk mempengaruhi atau mengontrol sesuatu hal untuk memenuhi kenginan penuturnya. Antara lain, mantra merupakan ayat yang dibaca untuk melakukan sihir, yaitu melakukan sesuatu secara kebatinan, seperti menundukkan musuh, melemahkan musuh. Selain itu mantra dianggap memiliki kekuatan gaib yang luar-biasa yang memungkinkan pembacanya mengontrol seseorang atau alam.
Mantra adalah bunyi, suku kata, kata, atau sekumpulan kata-kata yang dianggap mampu "menciptakan perubahan" (misalnya perubahan spiritual.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mantra diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.
Mantra-mantra sejatinya merupakan 'perwujudan pikiran' yang merepresentasikan keilahian atau kekuatan kosmik, yang menggunakan pengaruh mereka dengan getaran suara
Mantra biasanya diucapkan seseorang sebagai media untuk berhubungan dengan kekuatan gaib, mantra tersebut dianggap sebagai perantara.
Mantra dianggap sebagai perantara manusia dengan alam gaib, yang menjadikan sesuatu yang tidak nyata menjadi nyata dan sebaliknya. Kekuatan gaib yang timbul di dalam mantra karena adanya keyakinan dari sang pembaca mantra tersebut. Proses penyebarannya melalui tuturan yang disampaikan dari mulut ke mulut.

B.       CIRI-CIRI MANTRA
Adapun ciri-ciri mantra adalah mantra yang berbentuk puisi, isi dan konsepnya mencerminkan kepercayaan masyarakat waktu itu, dibuat untuk satu tujuan tertentu.
Biasanya, mantra bersifat sihir simpati, yaitu sesuatu sifat disebut atau dikaitkan dengan sesuatu atau seseorang agar pembaca mantra tersebut dapat memiliki sifat yang sama.
Ciri-ciri mantra pada umumnya adalah:
·           Mantra terdiri dari beberapa rangkaian kata berirama.
·           Isinya berhubungan dengan kekuasaan gaib
·           Mantra diamalkan dengan memiliki tujuan tertentu.
·           Mantra diwarisi dari perguruan atau melalui cara gaib seperti menurun atau keturunan atau mimpi.
Biasanya membutuhkan pengamalnya yakin keras, dan jika pengamalnya merasa kurang keyakinan, mantra akan menjadi tawar atau tidak bereaksi dan tidak efektif.

C.       MANTRA DALAM KEBUDAYAAN MASYARAKAT
Kebudayaan merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu bentuk budaya masyarakat yang masih dilestarikan adalah mantra. Mantra dikenal masyarakat indonesia sebagai rapalan untuk maksud dan tujuan tertentu (maksud baik maupun maksud kurang baik). Sebagian masyarakat tradisional khususnya di nusantara biasanya menggunakan mantra untuk tujuan tertentu. Hal tersebut sebenarnya bisa sangat efektif bagi para penggunanya, Selain merupakan salah satu sarana komunikasi dan permohonan kepada Tuhan, mantra dengan kata yang ber rima memungkinkan orang semakin rileks. Dalam kalimat mantra yang kaya metafora dengan gaya bahasa yang hiperbola tersebut membantu perapal melakukan visualisasi terhadap keadaan yang diinginkan dalam tujuan mantra. Kalimat mantra yang diulang-ulang menjadi afirmasi, para psikolog dan motivator menyebutnya sebagai sugesti diri.

Dalam masyarakat Jawa mantra dibagi dalam berbagai jenis yaitu :
1.        Asihan. Asihan biasanya dipakai untuk memikat orang lain. Misalnya saat kita memakai bedak di muka sambil membaca mantra yang berupa asihan, (katanya) bisa membuat orang lain tertarik dengan penampilan kita.
2.        Ajian. Ajian digunakan untuk kekuatan pribadi. Bisa dalam hal melindungi diri, bahkan mencelakai orang lain.
3.        Jampi. Jampi bersifat positif, untuk mengobati atau menolong orang lain.
4.        Jangjawokan. Jangjawokan biasanya digunakan untuk kegiatan sehari-hari yang bertujuan untuk mendapat keuntungan. Contoh, saat panen, saat mau bepergian, dll.
5.        Rajah. Rajah merupakan doa untuk meminta izin kepada leluhur (untuk keselamatan).
6.        Singlar. Singlar digunakan untuk mengusir makhluk halus.
Mantra memiliki sifat magis yang sangat kuat alias di luar logika. Mantra sendiri dianggap suci dan yang memakainya pun harus dalam keadaan bersih lahir batin. Sudah seperti melaksanakan ibadah. Tapi jika kita melihat antara doa dan mantra dalam masyarakat sama saja. Mantra adalah doa, doa adalah mantra. Memang dulu itu mantra isinya berdoa dan berpuja-puji kepada leluhur, tetapi sekarang mantra itu beda karena pengaruh Islam. Jadi, mantra-mantra sekarang banyak yang disisipkan dengan bacaan-bacaan Al-Quran.
Salah satu contoh mantra dalam masyarakat Jawa :
“ MANTRA ASIHAN “ Bismillahirrohmanir rohim, Niyat ingsung matek ajiku si Jaran Goyang, Sabete sada lanang, Tak sabetake gunung jugruk, Tak sabetake segara asat, Tak sabetake lemah bongkah, Sira mulya ingsun kongkon, Golekana jabang bayine … (nama dimaksud), Caketna marang jabang bayine …. (nama diri) Yen bocah turu gugahen, Yen wis nglilir lungguhna, Yen wis ngadeg lakokna, Caketna marang jabang bayine … (nama diri), Ora suwe tak enteni, Neng ngarep lawang Medinah, Aku durung pati-pati lunga, Yen durung caket jabang bayine …. (nama dimaksud).
Sedangkan dalam masyarakat Bugis Makassar juga masih sangat erat dengan mantra. Masyarakat Bugis Makassar menyebut mantra sebagai baca-baca.Baca-baca tersebut dipandang memiliki kekuatan tersendiri, tetapi baca-baca/mantra tidak dipandang sama dengan “ mappadua “ atau sirik pada Allah melainkan dipandang sebagai kekuatan teks yang bisa juga dimanfaatkan untuk daya tarik juga pada kebaikan.
Contoh mantra yang sering digunakan oleh pemuda Bugis Makassar yaitu Mantra Mappasang/ Mappaseng Rianging, mantra ini muncul ketika seorang pemuda hendak menyampaikan perasaan pada wanita dan hanya kepada angin tempat menitip amanah.
·           “ Anging ammiri’ko mae, tulusukko ribarambanna, pabattuanga’ nakku’ku ri(.....) dingin-dinginna. Artinya : angin berhembus yang membawa pesan telusupkan rohku ke dalam dadanya si (.....) karena sesuatu yang sejuk dan sakral.
·           Ikau anging baji kupasang, iya baji’ mappabattu, teako turung ri poko’ kayua, teako turung ri butta, turung ri barambannako. Artinya : kupesan pada angin yang berhembus, sebagai tempat terbaikan menyampaikan pesan, jangan hinggapkan pesanku ini pada pohon kayu atau pada tanah tapi hinggapkanlah di hatinya.

Sedang masyarakat Bugis Makassar yang sebagian besar adalah seorang petani juga menggunakan mantra pada saat menurunkan bibit padi ke sawah yang dinamakan “ Mantra Aklesoro Ase “
“ Oh Yaccing, napanaungko Nabbi, napattimboko Malaeka
Malaeka patanna pa’rasangan, awalli patanna bulu’
Naalleko Nabbi, natambaiko Malaeka, barakka’ Lailaha Illahlah, barakka Anna Muhammadarrasulullah “

 “ Artinya yaitu Yaccing areng tojeng-tojengna asea (yaccing adalah nama padi yang sesungguhnya/ yaccing=ase), tetapi penamaan yaccing merupakan nama hakikat dari langit, selanjutnya sebuah pengharapan ia diturunkan oleh nabi, demi dihidupkannya bibit oleh malaikat, sebab malaikat adalah pemilik tanah, awalli atau wali adalah simbol kesucian/ orang suci penyebar agama Islam juga beralamat tempat mencari penghidupan. Nabi adalah orang pilihan Allah untuk menerima wahyu, sedang malaikat diciptakan dari cahaya oleh Allah untuk taat dalam memenuhi kepeluan manusia atau tempat mengantarnya doa, semua adalah sebab yang baik, yaitu berkah Allah dan berkah hambanya Muhammad.
Makna dalam mantra tersebut petani dengan penuh harapan menurunkan dari lumbung penyimpanan padi dengan membaca mantra ini. Bibit ini disemaikan dekat lahan persawahan agar mudah diambil untuk ditanam pada lahan persawahan. Bibit padi ini diiringi dengan mantra supaya mendapat perlindungan.
Mantra-mantra di atas masih dapat hidup di tengah-tengah masyarakat pemiliknya dan masih tetap dipertahankan meskipun pada kenyataannya dunia semakin maju. Mantra itu bentuk kebudayaan asli Indonesia, sangat disayangkan bila dinterprestasikan secara salah.

D.       HUBUNGAN MANTRA DENGAN SASTRA
Mantra termasuk dalam genre sastra lisan yang populer di masyarakat Melayu, sebagaimana pantun dan syair. Hanya saja, penggunaannya lebih eksklusif, karena hanya dituturkan oleh orang tertentu saja. Dari segi bentuk, mantra sebenarnya lebih sesuai digolongkan ke dalam bentuk puisi bebas, yang tidak terlalu terikat pada aspek baris, rima dan jumlah kata dalam setiap baris. Dari segi bahasa, mantra biasanya menggunakan bahasa khusus yang sukar dipahami. Di dalam mantra terkandung unsur keindahan, di dalam mantra terkandung unsur kesastraan. Mantra memiliki unsur-unsur antara lain; rima, irama, dan tentunya makna. Rima adalah pengulangan bunyi yang berselang, baik di dalam larik mantra maupun pada akhir larik mantra yang berdekatan. Irama adalah turun naiknya sebuah nada, atau tinggi rendahnya nada, panjang pendeknya nada tersebut. Irama juga bisa di artikan sebagai bentuk penekanan di dalam sebuah mantra. Sedangkan makna adalah hubungan antara lambang bunyi dengan acuannya. Setiap kata dalam mantra itu mengandung makna yang utuh. Keutuhan makna itu merupakan perpaduan dari empat aspek, yakni pengertian (sense), perasaan (feeling), nada (tone), dan amanat(intension). Memahami aspek itu dalam seluruh konteks adalah bagian dari usaha untuk memahami makna mantra yang sesungguhnya. Adakalanya, dukun atau pawang sendiri tidak memahami arti sebenarnya mantra yang ia baca, ia hanya memahami kapan mantra tersebut dibaca dan apa tujuannya. Dalam dunia sastra, mantra adalah jenis puisi lama yang mengandung daya magis. Setiap daerah di Indonesia umumnya memiliki mantra, biasanya mantra di daerah menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Daftar Rujukan
Novi ina.  http://novidinaayu.blogspot.com/2013/01/mantra-indo-makalah.html/ Diakses pada 11 Januari 2016.
 

0 komentar:

Posting Komentar