Sabtu, 09 Agustus 2014

Aeni

Dengarlah Aeni...
Aku tahu harapanmu masih berserak
Terkadang hatimu getir sendiri

Aeni...
meski Aku tak melihat kedengkian
kemunafikan
kekecewaan
tetap pengap Aku rasa

Aeni...
Malam semakin larut
Meski terjatuh pada jurang relung
hasrat haru biru
jiwa riuh bungkam
remuk redam dipaksa beku
Ohh biarlah Aeni
nikmati sajalah cara hati menyelimuti ketulusan

Aeni...
izinkan Aku merangkum kisah kita
menyaksikan deru roda berjalan
tak peduli keangkuhan Rasa
biarkan melambung ke angkasa
nampaknya lebih baik memilih bisu
iringi doa khusyuk dan khidmat

Rabu, 06 Agustus 2014

Lelaki itu...

Laki-laki itu berjaket coklat
tubuh kurus rambut tebal
laki-laki yang hanyutkanku pada bola matanya
sorot sayup dalam lekat memandang
hingga degup jantung menyuarakan namanya

Ansar itu namamu
mengirim gema ke awan
pelan hembus nafas
ciptakan gemetar tanpa sadar memenjara
pada bibir yang mencipta madu
bahagia ikut memeluk

Dia Ansar
menjelma bayang pada hasrat
diujung senja rindu mulai menghangat
meneggelamkan lelah
dengan sentuh rayunya

Kamu Ansar
terus hidup dalam pikiran
menyulam rindu yang terus berjelaga
mengantarkan tawa pada ujung hari
temani temani temani Aku
membuahi kasih menyentuh langit

ini bait untukmu :)

Selasa, 05 Agustus 2014

Ketika Senja

melodi rindu bernada
menerawang jingganya senja
mata bening menatap lekat
berpacu nafas detak menggebu
kemut bibir mendayu
jentik jemari berpelukan
dekap gigil sangat erat
menelisik pangkal sendi
riak-riak gemulai membara
gegar cumbu menerkam
ruam-ruam terangkai
bergegas memijah hati
menuju puncak keindahan RASA

Senin, 04 Agustus 2014

Masih Tentang Rindu

Ini bait yang kesekian kali tercipta hari ini
dan masih tentang rinduku
sedari tadi menelisik ke penjuru sukma
memasung dalam sajak-sajakku di bulan Agustus

ini masih huruf-hurufku yang berlabel puisi
mungkin ini rindu terbesarku
rindu yang kususun pada gugusan senja
Semilir RASA membelai jiwa
tercium aromamu di seberang sana

memang merinding dalam hasrat jika merinduimu
rindu yang menjajah pikiranku
Aku takjub bukan kepalang

lalu aksara apalagi yang kuselipkan dalam baitku untuk melukiskan rindu untukmu?
kemudian Aku pun masih merindukanmu

Minggu, 03 Agustus 2014

Tanya Rinduku

bolehkah Aku meminjam sorot mata teduhmu?
bolehkah Aku menghimpun RASA yang selalu merangkak dalam sukmaku ?
bolehkan Aku mempuisikan dan menerjemahkanmu dalam untaian bait ini?
bolehkan Aku mengkekalkan wujudmu dalam istana hatiku ?

tanya rinduku..
Aku selalu menggubris rindu yang kian menggelegar
rindu termegah dalam cakrawala jiwa


tanya rinduku..
rindu yang merambah berontak
tak ingin tergugu dalam selingkung RASA

tanya rinduku..
menyusupi angin sepoi
bercengkrama intim dalam sela-sela sajak

tanya rinduku
menyeruput RASA yang sulit terukur
menampung kecipak-kecipak kesegaran merinduimu