Selasa, 25 November 2014

Abai

yah.. lekukan itu kukemas dengan sumringah di balik gincu warna merah muda
jangan menganggapku sebagai api lilin kecil
pun jangan memancing bara sebab kan menjadi unggun
tak semudah itu memaklumi
Mungkin kaki-kaki RASA di kepalaku mulai kesemutan
ada dampak dari diam-diam
Kali ini biar balasan itu bersama kamu

terlalu absurd
diksi-diksimu perlu penekanan gradasi
Selamat menidurkan omong kosong ;)

Kini Aku tahu apa yang terselubung pada setatap temu

Sabtu, 22 November 2014

Perempuan November

Tentang kita yang diaminkan tik tok waktu
bukan persoal siapa yang tepat mendengarkan keluh kesah kita.
kali ini kita tidak sedang membahas cerita-cerita lewat telpon yang sering kita perbincangkan
perasaan bahagia atau haru dapat mengajak Aku dan Kamu untuk mudah mengumbar tawa dan saling menata diri
Aku belum tahu bagaimana kita di takdirkan atas harapan-harapan yang selalu kita endapkan dalam pikiran

Ini Novembermu Lit..
Selamat ulang tahun sahabatku

Pada tanggal 23 November esok ketika usiamu genap bertambah
maafkan Aku yang belum mampu menghadiahimu eufoni merdu untuk hadiah ulang tahunmu
atau kado-kado yang lazim diberikan saat hari kelahiranmu dirayakan..

Untuk sahabatku Litha..
Aku mengenalmu sebagai gadis periang..
yahh andai segala macam perempuan seriang dirimu
mungkin warna remaja terbias cerah menderu
kegirangan padamu tak pernah mengatup

sekarang kamu seorang perempuan dewasa
Aku selalu kalah denganmu
Kamu paling hebat dalam hal perasaan
paling lihai menyimpan rasa dalam jejak langkahmu
Ahh pokoknya Kamu paling pandai bersahabat dengan tunggu dan waktu

bersinarlah lebih kejora Lit..
berjinggat-jinggat memesona
sebab ada yang menatapmu di sisi terluar galaksi tata surya
selamat bertambah usia sahabatku.

Sabtu, 20 September 2014

Kau

Pemimpin katanya
terlantik pada barisan biru
Kau pelukis angkara di permukaan mata
Hei mengertilah sedikit kawan
Kita sama-sama pada hijau hitam bermotif
Tapi Kau terlalu sengit
sedang kami menuruti pendar yang kau beri
Kau selalu terpanggil pertama
dengan suguhan puji-puji
Ingatlah sekali lagi
kita berotasi pada waktu yang sama
Kau..
tak peduli awan atau abu
membawa sekarat lalu mati
ahh.. ini semua konyol
yah Kau.. Kau dan Kau

Rabu, 17 September 2014

Izinkan Aku Menulis

Izinkan Aku menulis sekali ini saja
meski huruf-hurufku meletup tak tahu aturan
Izinkan Aku menulis
kan Kudobrak batas dengan angkara
Tak ingin dikekang aturan kuasa
Karena Aku tahu
sela-sela lebih mengenali jemari
dari larik ke bait

Izinkan Aku menulis
menyibak ilusi-ilusi
genapkan aksara yang tak kunjung terangkum
biar binasa segala rasa

Izinkan Aku menulis
menulis manja yang telah jadi sabda
kan kulumat perlahan
hingga Aku menemukan pelangi di ujung pena

Selasa, 16 September 2014

Apa ?

Apa yang harus dituliskan??
berjuta kata tersumbat dalam otak
tak terbelesit di pikiran
apa ?
nampaknya enggan bersua
jemari merenggang
tak ada gurat melimbung
Apa ?
hela tersenggal menegang
tergolek tanpa daya
liuk-liuk seakan redam
tak lama mungkin mengabu
hingga berterbangan
Apa ?
Ini diam

Senin, 15 September 2014

Untuk Sela pada September

Dia Sela tak ingin tersenyum
pelunauan RASA nampaknya mulai hilang
meski sesekali teringat lentikan lugu itu
yang terbalas dengan luka berat
sebal merasakan bebal dengan ketakpekaan
bersabarlah sejenak...!
relakan bintang yang dulu menyukai keberadaanmu
sebab Ia mulai tahu diri
bersinarlah.. bersinarlah saja Sela
tak usah menoleh lagi
rangkum kenangan yang dulunya membuat terlena
semoga kelanamu menemukan pengembara baru

Kamis, 11 September 2014

Tutup Botol

Aku masih duduk dipangkuan malam, mengingat kenangan yang tak kan aku lupakan..

tidak seperti biasa ketika mentari mulai menampakkan cahayanya Aku mulai mengumpulkan plastik-plastik bekas yang tersangkut di pipa selokan depan ruko tanteku. Sekarang tidak lagi.

Berawal dari tutup botol yang Aku kumpulkan untuk membuat spanduk " PENTAS SENI DAN BUDAYA " di Kampusku, ide itu dari temanku Umi, Dia pernah ikut kongres di Semarang, melihat ke kreatifan orang-orang di sana dia kagum dan menceritakannya kepadaku dengan teman-teman yang lainnya, untuk membuat tulisan spanduk dengan tutup botol bekas, dengan bentangan kain hitam dan pembungkus kado mengkilap. Alhasil memang cantik :)

Yah ini memang pengalaman pertamaku, ketika Aku harus mencari tutup-tutup botol, kebetulan ada tempat sampah umum di samping lorong dekat rukoku, tiap hari Aku mengais-ngais ketika sampah baru menumpuk. Tanteku sempat melarangku karena hal itu akan membuat saya kotor dan orang akan berpikir saya pemulung hahahah " pemulung cantik "

Ada yang membuatku terharu, merenung bahkan menangis... sampai saat ini Aku mencarinya adik-adik kecilku, jagoan-jagoan yang dulu membantuku mencari tutup botol bekas, di pinggir jalan, di selokan, di tempat sampah. Mereka dengan tawa di garis-garis bibirnya. Arif dan Rahmat mereka pahlawan yang tak kenal lelah mencari kehidupan, Aku bersyukur karena pernah menghabiskan pagi bersama mereka meskipun itu hanya dua hari.

Aku masih mencari kalian,, belum sempat Aku memberi hadiah, belum sempat Aku berfoto-foto dan belum sempat Aku mencari tahu kehidupan kalian. Yah kalian memang hebat, di usia 9 tahun kalian sudah belajar menafkahi mengumpulkan barang-barang bekas dengan pakaian yang kusut yang kalian kenakan dan karung bekas yang ditenteng ke sana kemari. Aku tahu karung itu sangat berat, tapi tangat-tangan mungil kalian tak pernah merasakan itu.

Aku masih menyimpan tutup botol yang kalian berikan kepadaku, Maaf Aku tidak bisa menempelkannya di spanduk sebab Aku ingin menyimpannya sebagai kenang-kenagan dari kalian.

Kalian dimana Adik-Adik kecilku....??


Bersambung .....

Sabtu, 09 Agustus 2014

Aeni

Dengarlah Aeni...
Aku tahu harapanmu masih berserak
Terkadang hatimu getir sendiri

Aeni...
meski Aku tak melihat kedengkian
kemunafikan
kekecewaan
tetap pengap Aku rasa

Aeni...
Malam semakin larut
Meski terjatuh pada jurang relung
hasrat haru biru
jiwa riuh bungkam
remuk redam dipaksa beku
Ohh biarlah Aeni
nikmati sajalah cara hati menyelimuti ketulusan

Aeni...
izinkan Aku merangkum kisah kita
menyaksikan deru roda berjalan
tak peduli keangkuhan Rasa
biarkan melambung ke angkasa
nampaknya lebih baik memilih bisu
iringi doa khusyuk dan khidmat

Rabu, 06 Agustus 2014

Lelaki itu...

Laki-laki itu berjaket coklat
tubuh kurus rambut tebal
laki-laki yang hanyutkanku pada bola matanya
sorot sayup dalam lekat memandang
hingga degup jantung menyuarakan namanya

Ansar itu namamu
mengirim gema ke awan
pelan hembus nafas
ciptakan gemetar tanpa sadar memenjara
pada bibir yang mencipta madu
bahagia ikut memeluk

Dia Ansar
menjelma bayang pada hasrat
diujung senja rindu mulai menghangat
meneggelamkan lelah
dengan sentuh rayunya

Kamu Ansar
terus hidup dalam pikiran
menyulam rindu yang terus berjelaga
mengantarkan tawa pada ujung hari
temani temani temani Aku
membuahi kasih menyentuh langit

ini bait untukmu :)

Selasa, 05 Agustus 2014

Ketika Senja

melodi rindu bernada
menerawang jingganya senja
mata bening menatap lekat
berpacu nafas detak menggebu
kemut bibir mendayu
jentik jemari berpelukan
dekap gigil sangat erat
menelisik pangkal sendi
riak-riak gemulai membara
gegar cumbu menerkam
ruam-ruam terangkai
bergegas memijah hati
menuju puncak keindahan RASA

Senin, 04 Agustus 2014

Masih Tentang Rindu

Ini bait yang kesekian kali tercipta hari ini
dan masih tentang rinduku
sedari tadi menelisik ke penjuru sukma
memasung dalam sajak-sajakku di bulan Agustus

ini masih huruf-hurufku yang berlabel puisi
mungkin ini rindu terbesarku
rindu yang kususun pada gugusan senja
Semilir RASA membelai jiwa
tercium aromamu di seberang sana

memang merinding dalam hasrat jika merinduimu
rindu yang menjajah pikiranku
Aku takjub bukan kepalang

lalu aksara apalagi yang kuselipkan dalam baitku untuk melukiskan rindu untukmu?
kemudian Aku pun masih merindukanmu

Minggu, 03 Agustus 2014

Tanya Rinduku

bolehkah Aku meminjam sorot mata teduhmu?
bolehkah Aku menghimpun RASA yang selalu merangkak dalam sukmaku ?
bolehkan Aku mempuisikan dan menerjemahkanmu dalam untaian bait ini?
bolehkan Aku mengkekalkan wujudmu dalam istana hatiku ?

tanya rinduku..
Aku selalu menggubris rindu yang kian menggelegar
rindu termegah dalam cakrawala jiwa


tanya rinduku..
rindu yang merambah berontak
tak ingin tergugu dalam selingkung RASA

tanya rinduku..
menyusupi angin sepoi
bercengkrama intim dalam sela-sela sajak

tanya rinduku
menyeruput RASA yang sulit terukur
menampung kecipak-kecipak kesegaran merinduimu

Senin, 28 Juli 2014

Kadung Cinta

Sebentar ingin ku tuntaskan baitku
karena Aku semakin bersimbah rindu
terngiang desismu meyekapku
menyentuh seribu akar nadi
Engkau selalu merangkai bianglala dalam senjaku
helai rindu memekik
melampaui kayuh hembusku
dengan kilauan kasih
biarkan kulumat perlahan
hingga aksara turut membingkisku

Sabtu, 26 Juli 2014

Nelangsa

mataku enggan terbuka
meski satu mentari indah
menyapa tubuhku yang lesu
sepertinya acuan waktu menghilang dari benakku
dalam belantara jiwa
mencari oasis RASA disana
pelepas dahaga segala sukma
desak mendesak sesakkan dada dan pikiran
Ahhh,,,
biarkan kunikmati pagi ini
pelan-pelan rasakan dekapan embun
walau gerbang maya
ada serumpun tanya
yahh karena derma rasaku
hendak mengukir bait-bait ini

Jumat, 25 Juli 2014

Mutiara Senja

Entah lembut
mempesona
ataukah anggun
tentu senja masih jauh

percik rindu mungkin masih hinggap
rindu yang dulunya hilang
apakah senja salah telah hadir

mutiara itu kasih pertama
kasih terdalam hingga senja mulai merampasnya
mengalihkan arah tuju gerimis

mutiara terang, indah nan cantik
mutiara maafkan senja merenggut sinarnya
senja ini hanya menghadirkan gelap ketika malam mulai menelannya

Sendiri

Sepi ini hendak mencari kejora

Di dasar langit mendung

Meniti gerimis berkecamuk

Di tepi pagi

Sedikit menggigit bibir menanti hujan

Sesak nafas terhimpit akal tertekuk

Sepi dalam tahannus menjulang seperti petir

Dan sepi kembali memaksa bermain bersama waktu

Kamis, 24 Juli 2014

RASA itu

aku tahu rasa itu
dan aku rasakan itu
di malam santun yang berbalut sepi ini
masih ku rasakan
pertemuan dalam satu jeda kala hujan tadi
ada yang menghangat dada
ingin ku nikmati lagi
senja dan matahari yang tenggelam di pipimu
sinar tatapmu yang menerobos garis-garis gerimis
senyummu manarikku melantai d hamparan rindu
wahai kekasih hatiku...
penakluk hasratku
temani aku
melebur cinta dan rindu dalam sukmaku

Rabu, 23 Juli 2014

Butiran Pagi

Mentari hadir kembali
menemaniku merajut cakrawala
dengan benang-benang air mata
ilalang pagi mengalunkan melodi ke dalam qalbu
Engkau malaikat di celah cahaya itu
menghadirkan kilau embun bagai kristal
tataplah Aku dengan satu kecupan hangat
meskipun Engkau tak menyapaku pagi ini
cukup dengan senyuman manja
yang menjagaku hingga senja

Sajak Untuk Sang Senja

senja yang begitu hangat..
di sana telah ku selipkan sejuta rindu..
desau angin dengan bisikan gemas
menghadirkan gemuruh hati dalam pelukan...

senja...
ku tatap engkau bersama mentari di celah keheningan...
jam tanpa jarum di balik jendela itupun tersenyum
menertawaiku bermain dengan bingkisan fatamorgana..

senja..
ingin ku sampaikan rasa ini...
meskipun kau hampir ditelan malam..
kan ku temui engkau dalam mimpi..

Indahnya Pagi

Hangatnya pagi bukan karena ku buka jendela
membiarkan matahari melukis cahaya
tetapi ketika lembut suaramu
mengepak anggun dibalik senyummu
ohh...matahari jam tujuh lewat dua
sunguh menawan
Aku ingin mensyukuri pagi ini
memanjatkan doa dikeningmu
karena Kau adalah terik kerinduan

Jumat, 20 Juni 2014

Kelak

Aku mendengar suara adukan cangkir dari arah dapur, yang tadinya suara kreeess seperti suara wajan dan minyak panas
sedang aku masih terpekur di kamar, dengan selimut orangeku gambar mickymouse.
tak lama kemudian ibu membangunkanku dengan suara lembutnya memanggil namaku,
" Tonna, Tonna,... "
" mmmmmmmmm " menyahut panggilan ibu
tadinya saya kira ibu membangunkanku karena ada makanan
ternyata hanya untuk menanyakan " kamu tidak shalat shubuh nak ? "
" emangnya sudah jam berapa ? " sambil membuka mata mencari hp
" jam lima nak "
" ntar bu', saya masih ngantuk "
" tidak baik menunda-nunda, ibu udah buatin teh dan ubi goreng "
Ibuku memang setiap pagi ketika aku datang ke rumah, Ibu selalu menyiapkan teh setelah aku bangun. Memang rasanya di rumah sendiri itu jauh berbeda dibanding tempat2 yang lain.
ibu masih terus membangunku, mataku tak dapat berkompromi karena semalam aku begadang hingga jam setengah satu..
tiba tiba dari pintu kamarku, terlihat Ayahku menuju ke arahku, sama seperti Ibu, Ayahku juga ikut membangunkanku mengajakku shalat shubuh berjama'ah.
kali ini aku tak bisa mengelak lagi menuruti kemauan mata dan ngantukku,
" Mau sampai kapan kamu dibangunkan seperti ini?. sampai kapan anak perempuan cantiknya Ayah bangunnya lama ? " sambil tersenyum Ayahku menarik selimutku
" bagaimana kalau nanti kamu menikah, pasti tidak ada lagi ibu dan Ayah membambangunkanmu, malahan kamu yang membangunkan anak-anakmu mengurus suamimu, bangun meyiapkan makanan ? "
mendengar Ayahku, aku dan Ibu tertawa terbahak, ngantuk tiba-tiba hilang. semua berubah jadi canda.
akupun beranjak dari tempat tidur segera untuk berwudhu
pertnayaan Ayah tadi menurutku tak perlu aku jawab, memang sih suatu saat nanti aku akan berada diposisi mereka. tapi saya belum tahu apakah aku bisa menjadi seperti mereka yang begitu tulus.
ahh sudahlah..
intinya makasih teh manisnya bu', yang tahu seleraku cuman ibuku sayang
makasih juga untuk Ayah, Imam dan pemimpin hebat dalam keluaarga.

Kamis, 01 Mei 2014

maNAMAna

maNAMAna
naMANAma
Mana nama ku
Mana bisa nama ku tak ada
Mana mungkin seperti itu
Mana janji atas nama ku
Mana nama ku
Sedang namamu ada di hatiku
Pat pit put
Tak ku ada
Ku tak ada
Derap langkah semakin jauh
Dan hilang
Namaku tak ada di hatimu


Ratna Sari
Bontokapetta, 01 Mei 2014
Puisi yang membingungkan, semenjak Aku mulai ragu dengannya