Sabtu, 20 September 2014

Kau

Pemimpin katanya
terlantik pada barisan biru
Kau pelukis angkara di permukaan mata
Hei mengertilah sedikit kawan
Kita sama-sama pada hijau hitam bermotif
Tapi Kau terlalu sengit
sedang kami menuruti pendar yang kau beri
Kau selalu terpanggil pertama
dengan suguhan puji-puji
Ingatlah sekali lagi
kita berotasi pada waktu yang sama
Kau..
tak peduli awan atau abu
membawa sekarat lalu mati
ahh.. ini semua konyol
yah Kau.. Kau dan Kau

Rabu, 17 September 2014

Izinkan Aku Menulis

Izinkan Aku menulis sekali ini saja
meski huruf-hurufku meletup tak tahu aturan
Izinkan Aku menulis
kan Kudobrak batas dengan angkara
Tak ingin dikekang aturan kuasa
Karena Aku tahu
sela-sela lebih mengenali jemari
dari larik ke bait

Izinkan Aku menulis
menyibak ilusi-ilusi
genapkan aksara yang tak kunjung terangkum
biar binasa segala rasa

Izinkan Aku menulis
menulis manja yang telah jadi sabda
kan kulumat perlahan
hingga Aku menemukan pelangi di ujung pena

Selasa, 16 September 2014

Apa ?

Apa yang harus dituliskan??
berjuta kata tersumbat dalam otak
tak terbelesit di pikiran
apa ?
nampaknya enggan bersua
jemari merenggang
tak ada gurat melimbung
Apa ?
hela tersenggal menegang
tergolek tanpa daya
liuk-liuk seakan redam
tak lama mungkin mengabu
hingga berterbangan
Apa ?
Ini diam

Senin, 15 September 2014

Untuk Sela pada September

Dia Sela tak ingin tersenyum
pelunauan RASA nampaknya mulai hilang
meski sesekali teringat lentikan lugu itu
yang terbalas dengan luka berat
sebal merasakan bebal dengan ketakpekaan
bersabarlah sejenak...!
relakan bintang yang dulu menyukai keberadaanmu
sebab Ia mulai tahu diri
bersinarlah.. bersinarlah saja Sela
tak usah menoleh lagi
rangkum kenangan yang dulunya membuat terlena
semoga kelanamu menemukan pengembara baru

Kamis, 11 September 2014

Tutup Botol

Aku masih duduk dipangkuan malam, mengingat kenangan yang tak kan aku lupakan..

tidak seperti biasa ketika mentari mulai menampakkan cahayanya Aku mulai mengumpulkan plastik-plastik bekas yang tersangkut di pipa selokan depan ruko tanteku. Sekarang tidak lagi.

Berawal dari tutup botol yang Aku kumpulkan untuk membuat spanduk " PENTAS SENI DAN BUDAYA " di Kampusku, ide itu dari temanku Umi, Dia pernah ikut kongres di Semarang, melihat ke kreatifan orang-orang di sana dia kagum dan menceritakannya kepadaku dengan teman-teman yang lainnya, untuk membuat tulisan spanduk dengan tutup botol bekas, dengan bentangan kain hitam dan pembungkus kado mengkilap. Alhasil memang cantik :)

Yah ini memang pengalaman pertamaku, ketika Aku harus mencari tutup-tutup botol, kebetulan ada tempat sampah umum di samping lorong dekat rukoku, tiap hari Aku mengais-ngais ketika sampah baru menumpuk. Tanteku sempat melarangku karena hal itu akan membuat saya kotor dan orang akan berpikir saya pemulung hahahah " pemulung cantik "

Ada yang membuatku terharu, merenung bahkan menangis... sampai saat ini Aku mencarinya adik-adik kecilku, jagoan-jagoan yang dulu membantuku mencari tutup botol bekas, di pinggir jalan, di selokan, di tempat sampah. Mereka dengan tawa di garis-garis bibirnya. Arif dan Rahmat mereka pahlawan yang tak kenal lelah mencari kehidupan, Aku bersyukur karena pernah menghabiskan pagi bersama mereka meskipun itu hanya dua hari.

Aku masih mencari kalian,, belum sempat Aku memberi hadiah, belum sempat Aku berfoto-foto dan belum sempat Aku mencari tahu kehidupan kalian. Yah kalian memang hebat, di usia 9 tahun kalian sudah belajar menafkahi mengumpulkan barang-barang bekas dengan pakaian yang kusut yang kalian kenakan dan karung bekas yang ditenteng ke sana kemari. Aku tahu karung itu sangat berat, tapi tangat-tangan mungil kalian tak pernah merasakan itu.

Aku masih menyimpan tutup botol yang kalian berikan kepadaku, Maaf Aku tidak bisa menempelkannya di spanduk sebab Aku ingin menyimpannya sebagai kenang-kenagan dari kalian.

Kalian dimana Adik-Adik kecilku....??


Bersambung .....