Selasa, 12 Januari 2016

Mantra dalam Sastra


A.       PENGERTIAN MANTRA
Mantra diambil dari kata sansekerta yaitu "mantra" atau "manir" yang merujuk pada kata-kata dalam kitab suci umat Hindu, Veda. Dalam masyarakat Melayu, mantra atau juga dikenal sebagai jampi, serapah, atau seru adalah sejenis pengucapan yang terdengar seperti puisi yang mengandung unsur sihir dan ditujukan untuk mempengaruhi atau mengontrol sesuatu hal untuk memenuhi kenginan penuturnya. Antara lain, mantra merupakan ayat yang dibaca untuk melakukan sihir, yaitu melakukan sesuatu secara kebatinan, seperti menundukkan musuh, melemahkan musuh. Selain itu mantra dianggap memiliki kekuatan gaib yang luar-biasa yang memungkinkan pembacanya mengontrol seseorang atau alam.

Jumat, 08 Januari 2016

....

Di dalam mata aku melihat, dalam tundukku
mencintai langkahmu
Tiadakah engkau tahu pada rasa?
dengan sengaja kau diam
lalu tenggelam dan lupakan

yah..Aku cengeng

Maafkan Daku Tuan

Tuan...
pandangku masih mudah tertipu
belia tak tahu hakikat
cakap hanya sering berspekulasi yang belum tentu benar
telinga dengan pendengaran cukup
ingatan dengan warna langit senja yang tertutup mendung
membaca dan mengenal lewat kata
selebihnya aku belum mampu bertaruh praduga...

Tuan...
kau belum tahu sebenar-benarnya hati seorang perempuan
perasaanku hanya sekumpulan rasa takut
takut jika aku sia di matamu
perjuanganku mampu dikalahkan deras hujan
mana bisa terbitkan pelangi?
aku tak sekuat yang kau kira
menantimu dengan setumpuk pertanyaan dan praduga
seperti tragedi yang sengaja ditutup-tutupi.

Tuan..
Aku akan mundur selangkah demi selangkah
sebab ada hal yang tak kuduga sebelumnya dan lagi lagi aku harus mengalah
Aku ingin menjaga perasaanmu, hingga tak begitu peduli dengan milik orang lain 
bahkan milikku sendiri
aku masih jeli melihat ketulusan mencintai

Tuan Aku perlu belajar lebih...

07 Januari 2016 - 21.14

Minggu, 03 Januari 2016

tentang tunggu

Telah kusiapkan doa doa, agar tabahku tetap pada garis kita, menunggumu penuh setia sebab aku mencintaimu, maka aku menangguhkan doaku, merayu Tuhan untuk jalan yang semoga mengarahkanmu kepadaku. Suatu hari, ingin kuwujudkan mimpiku dengan mengajakmu berada di dalamnya, aku tidak berani menjanjikanmu apa-apa, kecuali hati ini untukmu kujaga...
Kaulah waktu; tempat segala doa menunggu.


Jumat, 01 Januari 2016

Lalu

Waktu adalah ingatan
besok mungkin harus merampung kenangan
sebagai seorang perempuan
yang menyimpan senyum memilih senja 

sebagai tempat menundukkan segala apapun
tak pernah beranjak
Jantungku berisikan kata-kata yang akan meledak
sore mulai matang dan larut
pesanku menjadi batu, lalu tenggelam ke bawah
selamat beristirahat desemberku
kau tak akan tergelincir dalam ketiadaan
atau luruh pada cerita di mana kerap tak terbaca pada siapapun.


Maros, 01 Januari 2016