Senin, 20 Juni 2016

Birrul Walidain, ikhlasum pi amali

Dalam kehidupan yang sedang dan yang akan kita jalani pasti akan menemukan banyak hambatan, rintangan serta cobaan. Kadang dalam hidup ini semua hal tidak berjalan sesuai keinginan kita. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya, karena orang tua kita tidak merestui apa yang kita inginkan. Semua orangtua pasti berharap anak-anaknya sukses. Orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Meskipun kadang keputusan mereka belum tentu tepat dalam menentukan jalan hidup anaknya. Sedangkan si anak juga ingin meraih impian yang menurutnya terbaik, meskipun kadang harus beradu argumen untuk meyakinkan orang tua demi mendapatkan restu mereka. Di situlah masalahnya. Ada kalanya kita tidak bisa menentang keinginan mereka. Dikenyataannya, hanya sedikit anak yang berani menentang keputusan orang tuanya. Mereka nekat melakukan apa yang menjadi impiannya, meski tanpa restu dari orang tuanya.

Kemudian saya teringat dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah berpesan bahwa keridhaan Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada dalam kemarahan orang tua.

Yah saya sedikit ingin bercerita tentang impian yang saya mantapkan yaitu mengabdi ilmu di pelosok negeri.

Awalnya, saya tak pernah berniat ingin menjadi guru tetapi perkuliahan yang sering membahas tentang pendidikan dan praktik mengajar lapangan membuat saya mulai peduli dengan dunia pendidikan meskipun hanya di beberapa aspek saja. Saya berpikir setelah lulus nanti akan melamar pekerjaan di bidang yang saya inginkan menjadi  editor, lalu saya seperti merasa ingin berbagi ilmu dengan anak-anak di negeri ini.

Saya memang sudah bekerja di salah satu sekolah dasar di daerahku, sekolah luar biasa. Semenjak menjadi bagian dari sekolah tersebut saya sadar bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah, beban yang dipikul cukup berat. Di sana saya belajar tentang arti kepedulian, kesabaran dan cara memberikan perhatian khusus untuk anak-anak istimewa.
 Kondisi mereka mungkin mempunyai gangguan fisik atau keterlambatan perkembangan, ketidakmampuan untuk belajar, gangguan mental atau bahkan anak dengan tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Saya menyebutnya anak spesial, karena kebutuhan, pola pengasuhan, dan pendidikannya juga spesial, kebutuhannya berbeda dari tumbuh kembang anak pada umumnya. Saya sangat kagum dengan guru-guru di sekolah tersebut, guru yang mulia. Pekerjaan mulia ini tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang ada dimuka bumi ini. Terlebih menjadi guru anak berkebutuhan khusus, maka perasaan bahagia ketika anak-anak didik mereka mampu menunjukkan perkembangan yang baik dalam kemampuannya tentu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sebuah pengalaman yang membukakan mata hati saya untuk lebih banyak mengabdi, lebih banyak bersyukur, serta lebih banyak berbagi.

Kemudian, entah kenapa perhatianku juga dialihkan dengan anak-anak di pelosok negeri ini yang sekolahnya begitu memprihatinkan yang seringkali membuat saya tersenyum sekaligus terenyuh. Sebenarnya saat ini juga gencar-gencarnya ada proyek mengajar bersama untuk para anak muda bagi anak-anak di pelosok, seperti 1000 guru, Indonesia Mengajar, SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal)  dan masih banyak lagi yang lainnya. Saya ingin ikut salah satunya yaitu SM3T. Beberapa kali saya melihat di televisi, dan mendengarkan cerita dari salah seorang seniorku yang merupakan salah satu alumni SM3T. beliau sangat hebat dengan perjuangan demi mencerdaskan anak-anak negei ini. Saya sudah bergabung di group FB SM3T, menjelajahi situs-situs internet yang berkaitan dengan SM3T tersebut. Beberapa foto disajikan yang membuat saya semakin menggebu untuk ikut.

Namun apa daya keadaan belum mengizinkan. Kedua orang tuaku tidak menginginkan saya turut serta. Saya sudah menjelaskan bahwa setelah lulus kuliah nanti saya ingin ikut program tersebut, saya ingin benar-benar mengabdi, menjadi seorang guru yang menyenangkan bagi anak-anak didikku nanti. Tetapi Mereka tidak sanggup untuk jauh dengan anak sulungnya ini, meskipun mereka percaya bahwa mental saya cukup kuat dan sanggup mandiri. Mereka lebih ingin saya berada dekat tanpa harus pergi ke pelosok negeri yang sudah menjadi tujuanku. Yah impian memang impian. Berhasil meraih impian atau keinginan merupakan sebuah kebanggan. Dari sini saya belajar bahwa kebanggan bukan hanya itu, tapi kebanggan itu saat saya mampu membahagiakan orang lain di sekitar, terpenting orang tua saya. Kebanggaan ketika bisa membuat mereka tersenyum bahagia. Disini saya berada pada posisi sebagai seorang "perempuan" dan harus menggunakan waktu sebaik mungkin, mencoba sabar, karena perempuan yang terlalu memperhatikan karir, biasanya justru banyak melupakan kewajiban yang sudah seharusnya yang nantiya menjadi guru madrasah kecil di keluarga kelak. Niat yang menurutku baik belumlah baik bagi Allah, tapi yang menurut Allah baik itu pasti menjadi hal yang terbaik buat kehidupanku.

Akhirnya saya memilih untuk fokus pada perkuliahan saya menuju sarjana yang nantinya bermanfaat meski tanpa mengabdi di daerah terdepan, terluar dan tertinggal, karena dilatarbelakangi niatan tulus ingin mengabdi sambil mencari rezeki, tentu apapun pekerjaannya saya nikmati. Pengalaman dan ilmu yang tak ternilai harganya yang saya sudah dapatkan di sekolah luar biasa tempatku mengabdi, merupakan modal saya  tentang bagaimana kesabaran, kreativitas, dan kemampuan mengorganisir yang baik, terutama lagi adalah kemampuan untuk memahami perbedaan antar individu yang satu dengan lainnya, dan juga kemampuan untuk memotivasi anak-anak berkebutuhan khusus. Saya mulai bisa mengontrol kondisi kejiwaan dan emosi. Jiwa didik semakin ikhlas dan sabar. Keikhlasan dan kesabaran itulah yang mendorong saya untuk terus menggali ilmu dan pengalaman bagaimana sesungguhnya cara yang paling efektif agar yang dididik memiliki kemandirian, keterampilan dan tentu perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik yang semakin baik.

Semoga saya bisa menjadi seseorang yang berbakti kepada orang tua dan berbakti kepada negeri ini, mempertanggungjawabkan apa yang telah saya peroleh selama di bangku sekolah hingga lulus di bangku perkuliahan.

Satu lagi semoga saya  bisa memanusiakan manusia, memiliki kompetensi yang cukup, menjadi pendidik yang profesional dan tulus, bisa mendidik anak-anak, murid, siswa atau bahkan mahasiswa nantinya jika saya menjadi dosen. InsyaAllah J


Curhat 21 Juni 2016