Kamis, 17 Maret 2016

yang Ku panggil Ibu


untuk perempuan yang ku panggil ibu
Seorang perempuan yang tiap malam menenun serat-serat doa
cahaya bagi segala dan seluruh


pagi hening...
hening sangat
Debar di dada penuh resah dan air yang alir dari sepasang mata
Aku ingin simpuh dalam sujud, mengurai sedih yang sungguh kusut

Ibu...
sudikah Engkau
mengemas segala yang disembunyikan
agar aku merasa ringan untuk segala kekhawatiran
kekhawatiran yang terlalu matang dalam dadaku

Ibu...
udara terasa berat untuk kuhirup
ajarkan aku menaggung dingin
dari kuyupnya hujan
agar sakit di sekujur puisi ini lekas sembuh

Aku hanya ketakukan yang leleh setiap detiknya
Menenggelamkan rasa trauma pada tangis


17 Maretku