Dalam kehidupan yang sedang
dan yang akan kita jalani pasti akan menemukan banyak hambatan, rintangan serta
cobaan. Kadang dalam hidup ini semua hal tidak berjalan sesuai keinginan kita.
Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam. Salah satunya, karena orang tua kita
tidak merestui apa yang kita inginkan. Semua orangtua pasti berharap anak-anaknya
sukses. Orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Meskipun kadang keputusan mereka belum tentu tepat dalam menentukan jalan hidup
anaknya. Sedangkan si anak juga ingin meraih impian yang menurutnya terbaik,
meskipun kadang harus beradu argumen untuk meyakinkan orang tua demi
mendapatkan restu mereka. Di situlah masalahnya. Ada kalanya kita tidak bisa
menentang keinginan mereka. Dikenyataannya, hanya sedikit anak yang berani
menentang keputusan orang tuanya. Mereka nekat melakukan apa yang menjadi
impiannya, meski tanpa restu dari orang tuanya.
Kemudian
saya teringat dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah berpesan bahwa keridhaan
Allah subhaana wa ta’ala berada dalam keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah
berada dalam kemarahan orang tua.
Yah saya sedikit ingin bercerita tentang impian yang saya
mantapkan yaitu mengabdi ilmu di pelosok negeri.
Awalnya, saya tak pernah berniat ingin
menjadi guru tetapi perkuliahan yang sering membahas tentang pendidikan dan
praktik mengajar lapangan membuat saya mulai peduli dengan dunia pendidikan
meskipun hanya di beberapa aspek saja. Saya berpikir setelah lulus nanti akan
melamar pekerjaan di bidang yang saya inginkan menjadi editor, lalu saya seperti merasa ingin berbagi
ilmu dengan anak-anak di negeri ini.
Saya memang sudah bekerja di salah satu sekolah dasar di daerahku, sekolah luar
biasa. Semenjak menjadi bagian dari sekolah tersebut saya sadar bahwa menjadi guru itu tidaklah mudah, beban
yang dipikul cukup berat. Di sana saya belajar tentang arti kepedulian,
kesabaran dan cara memberikan perhatian khusus untuk anak-anak istimewa. Kondisi mereka mungkin
mempunyai gangguan fisik atau keterlambatan perkembangan, ketidakmampuan untuk
belajar, gangguan mental atau bahkan anak dengan tingkat kecerdasan yang sangat
tinggi. Saya menyebutnya anak spesial, karena kebutuhan, pola pengasuhan, dan
pendidikannya juga spesial, kebutuhannya berbeda dari tumbuh kembang anak pada
umumnya. Saya sangat kagum dengan guru-guru di sekolah tersebut, guru yang mulia. Pekerjaan mulia ini
tidak bisa dibandingkan dengan pekerjaan apapun yang ada dimuka bumi ini.
Terlebih menjadi guru anak berkebutuhan khusus, maka perasaan bahagia ketika
anak-anak didik mereka mampu menunjukkan perkembangan yang baik dalam
kemampuannya tentu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sebuah
pengalaman yang membukakan mata hati saya untuk lebih banyak mengabdi, lebih
banyak bersyukur, serta lebih banyak berbagi.
Kemudian, entah
kenapa perhatianku
juga dialihkan dengan anak-anak di pelosok negeri ini yang sekolahnya begitu
memprihatinkan yang seringkali membuat saya tersenyum sekaligus terenyuh.
Sebenarnya saat ini juga gencar-gencarnya ada proyek mengajar bersama untuk
para anak muda bagi anak-anak di pelosok, seperti 1000 guru, Indonesia
Mengajar, SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal) dan masih banyak lagi yang lainnya. Saya ingin
ikut salah satunya yaitu SM3T. Beberapa kali saya melihat di televisi, dan
mendengarkan cerita dari salah seorang seniorku yang merupakan salah satu
alumni SM3T. beliau sangat hebat dengan perjuangan demi mencerdaskan anak-anak
negei ini. Saya sudah bergabung di group FB SM3T, menjelajahi situs-situs
internet yang berkaitan dengan SM3T tersebut. Beberapa foto disajikan yang
membuat saya semakin menggebu untuk ikut.
Namun apa daya keadaan belum mengizinkan. Kedua orang tuaku
tidak menginginkan saya turut serta. Saya sudah menjelaskan bahwa setelah lulus
kuliah nanti saya ingin ikut program tersebut, saya ingin benar-benar mengabdi,
menjadi seorang guru yang menyenangkan bagi anak-anak didikku nanti. Tetapi Mereka
tidak sanggup untuk jauh dengan anak sulungnya ini, meskipun mereka percaya
bahwa mental saya cukup kuat dan sanggup mandiri. Mereka lebih ingin saya
berada dekat tanpa harus pergi ke pelosok negeri yang sudah menjadi tujuanku. Yah
impian memang impian. Berhasil meraih impian atau keinginan merupakan sebuah
kebanggan. Dari sini saya belajar bahwa kebanggan bukan hanya itu, tapi
kebanggan itu saat saya mampu membahagiakan orang lain di sekitar, terpenting
orang tua saya. Kebanggaan ketika bisa membuat mereka tersenyum bahagia. Disini
saya berada pada posisi sebagai seorang "perempuan" dan harus menggunakan
waktu sebaik mungkin, mencoba sabar, karena perempuan yang terlalu
memperhatikan karir, biasanya justru banyak melupakan kewajiban yang sudah
seharusnya yang nantiya menjadi guru madrasah kecil di keluarga kelak. Niat yang
menurutku baik belumlah baik bagi Allah, tapi yang menurut Allah baik itu pasti
menjadi hal yang terbaik buat kehidupanku.
Akhirnya saya memilih untuk fokus pada perkuliahan saya
menuju sarjana yang nantinya bermanfaat meski tanpa mengabdi di daerah terdepan,
terluar dan tertinggal, karena dilatarbelakangi niatan tulus ingin mengabdi
sambil mencari rezeki, tentu apapun pekerjaannya saya nikmati. Pengalaman dan ilmu
yang tak ternilai harganya yang saya sudah dapatkan di sekolah luar biasa
tempatku mengabdi, merupakan modal saya
tentang bagaimana kesabaran, kreativitas, dan kemampuan mengorganisir
yang baik, terutama lagi adalah kemampuan untuk memahami perbedaan antar individu
yang satu dengan lainnya, dan juga kemampuan untuk memotivasi anak-anak
berkebutuhan khusus. Saya mulai bisa mengontrol kondisi kejiwaan dan emosi.
Jiwa didik semakin ikhlas dan sabar. Keikhlasan dan kesabaran itulah yang
mendorong saya untuk terus menggali ilmu dan pengalaman bagaimana sesungguhnya
cara yang paling efektif agar yang dididik memiliki kemandirian, keterampilan
dan tentu perkembangan kognitif, afektif dan psikomotorik yang semakin baik.
Semoga saya bisa menjadi seseorang yang berbakti kepada
orang tua dan berbakti kepada negeri ini, mempertanggungjawabkan apa yang telah
saya peroleh selama di bangku sekolah hingga lulus di bangku perkuliahan.
Satu lagi semoga saya bisa memanusiakan manusia, memiliki kompetensi
yang cukup, menjadi pendidik yang profesional dan tulus, bisa mendidik
anak-anak, murid, siswa atau bahkan mahasiswa nantinya jika saya menjadi dosen.
InsyaAllah J
Curhat 21 Juni 2016