Kepada sepasang bibir penyumbat senyum, meluruhkan segalanya tanpa kata-kata
dengan sisa-sisa hangat dari sebidang dada
debar ikuti ritme langkah
sendat-sendat nafas menderu
hingga berpasrah pada pelukan
peleburan rindu semakin memuncak
lihai jemari yang datang sederhana
menggeliat di epidermis
sepersekian detik abu-abu
impian kemarau meremang
lembab membubuh alir hujan
wajah selintas jauh
dan kau menggantung
pun ku tak dapat bernyanyi lagi
Jumat, 08 Mei 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar